Archive for the ‘Open Source’ Category

Sistem operasi Firefox diharapkan banyak pihak akan menjadi sistem operasi mobile alternatif yang dapat menyaingi hegemoni Android dan iOS. Tampilan Firefox 2.0 yang merupakan versi terbaru Firefox OS pun kini mulai muncul ke permukaan. Tampilan antarmuka dari Firefox OS 2.0 tampak lebih segar dengan berbagai fitur yang lebih fungsional. Mozilla sebagai perusahaan pembuat Firefox OS disebutkan telah membenamkan berbagai senjata baru di versi terbaru platform mobile-nya itu. Berbagai fitur yang akan hadir di Firefox 2.0 itu terungkap berdasarkan postingan yang dilakukan oleh Sören Hentzschel, perwakilan Mozilla di Jerman. Dikutip dari Cnet, Hentzschel telah menerbitkan beberapa tampilan yang kemungkinan akan dibawa di Firefox 2.0 dalam laman blog-nya…Apa yang Baru di Firefox OS 2.0

Advertisements

Selain Android, sistem operasi (OS) open source lain yang menjadi perbincangan adalah Firefox OS. Smartphone berbasis OS mobile garapan Mozilla ini menjadi perhatian terutama karena harga jual yang terjangkau. Salah satunya adalah ZTE Open C. Smartphone ini dijual seharga US$ 100 atau sekira Rp 1 juta di Ebay, US$ 20 lebih mahal daripada pendahulunya, ZTE Open. Dilaporkan Gigaom, Minggu (11/5/3015), smartphone Firefox OS pertama yang dipasarkan di Amerika Serikat (AS) adalah ZTE Open. Sedangkan sang suksesor baru dijual Kamis lalu…Smartphone Firefox OS Dibanderol Rp1 juta

Perangkat Android identik dengan segala macam layanan Google selaku pembuat sistem operasi terbuka itu, mulai search engine, e-mail, hingga video streaming YouTube.

Layanan-layanan tersebut, menurut sebuah gugatan hukum perwakilan kelompok (class-action) yang dilayangkan kepada Google hari Kamis (1/5/2014) lalu di Pengadilan Negeri California, AS, ternyata “dipaksakan” oleh Google agar dimuat oleh para produsen perangkat Android.

Caranya, masih menurut gugatan yang dikutip oleh GigaOM ini, adalah dengan membuat perjanjian bernama Mobile Application Distribution Agreement (MADA).

Isi perjanjian itu mengharuskan layanan seperti Google Play Store dan YouTube agar dikedepankan pada layar perangkat bikinan produsen Android yang bersangkutan.

Gugatan class-action tersebut menuding bahwa Google berhasil mencapai monopoli lewat cara ini. Misalnya dalam hal search engine di mana Google mendapat pangsa 87 persen di pasar mobile search, sementara pesaing seperti Yahoo hanya bisa memperoleh kurang dari 8 persen.

Disebutkan pula bahwa para produsen Android tidak melakukan hal tersebut atas dasar sukarela, melainkan karena suatu bentuk “paksaan”.

“Karena konsumen menginginkan akses ke produk Google, dan karena posisi kuat Google di pasar AS untuk pencarian berbasis mobile, Google memiliki posisi tawar yang tak tertadingi atas produsen smartphone dan tablet,” tulis gugatan yang dilayangkan oleh Gary Feitelson dari Kentucky dan Daniel McKee dari Iowa itu.

Harga dibayar konsumen
Gugatan hukum turut mengklaim bahwa harga perangkat Android seharusnya bisa lebih murah seandainya para rival macam Microsoft (dalam hal search engine) bisa membayar para produsen agar memperoleh status sama seperti Google.

Namun, Google mengharuskan para produsen yang ingin memakai layanannya agar turut menyertakan Google sebagai alat search standar. Produsen pun tak memiliki alasan menerima bayaran dari pesaing untuk mengganti search engine.

Alhasil, harga perangkat jadi naik sementara inovasi cenderung mandek. Pada akhirnya harga yang lebih mahal ini harus dibayar oleh konsumen. Sebagai contoh diambil perangkat HTC EVO 3D dan Samsung Galaxy SIII yang harganya, menurut gugatan itu, jadi lebih mahal karena adanya perjanjian MADA.

Google telah menanggapi tuduhan tersebut dengan mengeluarkan bantahan.

“Siapapun bisa menggunakan Android tanpa Google atau Google tanpa Android. Kompetisi yang terjadi di ranah smartphone semenjak Android diperkenalkan telah memberikan konsumen lebih banyak pilihan dengan harga lebih murah,” tulis perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Sebelum ini, raksasa internet tersebut pernah beberapa kali bermasalah terkait persoalan layanan yang disediakannya. Februari lalu, misalnya, Google membuat kesepakatan dalam kasus anti-trust dengan Komisi Eropa untuk bertindak lebih adil kala menampilkan layanan kompetitor di hasil pencarian.

url; http://tekno.kompas.com/read/2014/05/04/1859041/Google.Dituduh.Memonopoli.Android

Meng-install sebuah aplikasi di Linux itu susah! Mungkin itu adalah ungkapan yang muncul ketika pertama kali mencoba menambah aplikasi di desktop Linux Anda. Sebagai contoh Anda ingin menambah Audacious sebagai pemutar musik di desktop. Lalu Anda mendownload file installer misalnya audacious_1.5.1-3ubuntu1_i386.deb dan mencoba meng-install-nya dengan perintah…..Mengatasi Software Dependency di GNU/Linux

Setelah Anda mengetahui Mengatasi dependency aplikasi di Linux maka sekarang saatnya untuk melakukan proses instalasi. Kalau Anda mengikuti saran saya (yakni meletakkan aplikasi dan dependency-nya dalam satu folder) maka proses instalasi menjadi lebih mudah. Saya asumsikan Anda sudah melakukan saran saya tersebut. Dan mari kita mulai… Cara Menginstall Software GNU/Linux

Kedua software ini (Gnome-DO dan Synapse) sama-sama mempercepat kerja kita dalam membuka suatu dokumen. Meski usianya masih terbilang baru dibandingan Gnome-DO, rupanya Synapse “mampu bersaing” dan mungkin suatu saat bisa “menggantikan” Gnome-DO. Ya, siapa tahu? Secara umum memang Gnome-DO lebih lengkap dalam hal plug-in dkk, tapi Synapse menawarkan hal lain….. Artikel Gnome-DO dan Synapse

Kalau kita biasa menggunakan Microsoft Windows maka untuk menemukan shortcut suatu aplikasi kita bisa klik Start> All Programs dan aplikasi yang terinstall langsung keliatan kmdn tinggal diklik aja. Kalau di sebagian besar distro Linux, tiap aplikasi sudah dibagi-bagi menurut kategori tertentu, sebagai contoh; multimedia (sub-menunya: sound, video dll)… Menemukan Shortcut Aplikasi dengan (Lebih) Cepat di SuSE Linux

Judul kali ini emang agak “beda”. Lagi-lagi saya “harus” membahas mengenai copas (copy-paste), topik yang nampaknya tak pernah usang karena memang tak henti-hentinya orang melakukan copas (baik yang positif terlebih lagi yang negatif). Baru-baru ini saya dikejutkan dengan penemuan tindakan copas (:baca pembajakan) salah satu artikel yang ada di blog ini. Beberapa tulisan saya terdaulu mungkin sudah sedikit membahas mengenai topik sejenis, hanya saja untuk kali ini “pelakunya” bisa dibilang “Aktivis” Open Source (mungkin, saya sendiri juga tak terlalu yakin)….. Omong Kosong “Aktivis” Open Source

Beberapa situs yang menyediakan repository Ubuntu 13.10 Saucy Salamander antara lain (silahkan ditambahkan di daftar repository Anda) …. Repository Lokal (Indonesia) Ubuntu 13.10

Anda pasti udah sering bangget mendengarkan hadits yang menyatakan bahwa ketika seorang anak adam meninggal dunia maka terputuslah sekalian amalnya kecuali 3 hal yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat untuk kebaikan dan anak sholeh (sholehah) yang senantiasa mendo`akan kedua orang tuanya… Komunitas Open Source dan Pahala yang Tak Terputus-putus